AMBON – Di tengah semakin akrabnya anak-anak dengan layar gawai, Fakultas Ilmu Pendidikan Kristen (FIPK) Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon memilih mengajak puluhan anak PAUD kembali berlari, bernyanyi, dan bermain permainan tradisional. Momentum Hari Anak Nasional 2026 dimanfaatkan untuk menghidupkan kembali ruang bermain yang dinilai mulai tergerus budaya digital.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertema "Implementasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal melalui Permainan bagi Anak Usia Dini", FIPK IAKN Ambon berkolaborasi dengan PAUD Rafflesia Arnoldy, Kayu Tiga, Kecamatan Sirimau, Jumat (21/7/2026). Kegiatan itu melibatkan dosen dan mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Kristen Anak Usia Dini, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Agama Kristen, Bimbingan dan Konseling Kristen, serta Teknologi Pendidikan.
Bagi FIPK, permainan tradisional bukan sekadar hiburan. Permainan menjadi media belajar yang membangun karakter, kemampuan berbahasa, hingga keterampilan sosial anak. Karena itu, kegiatan tidak berhenti pada seremoni peringatan Hari Anak Nasional, melainkan menghadirkan praktik pembelajaran yang langsung menyentuh peserta didik.
Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Kristen IAKN Ambon, Dr. Onisimus Amtu, M.Pd, membuka kegiatan tersebut. Ia mengatakan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga menjawab kebutuhan masyarakat, terutama dalam mendampingi tumbuh kembang anak usia dini.
Selama kegiatan, anak-anak diajak belajar melalui berbagai pendekatan. Dr. Benjamin Metekohy, M.Pd.K bersama tim memperkenalkan konsep bermain yang menyenangkan sebagai bagian dari proses belajar. Sementara dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris mengemas permainan tradisional gici-gici dan lemon nipis sebagai media memperkaya kosakata Bahasa Inggris, memperlihatkan bahwa permainan lokal dapat menjadi sarana pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini.
Isu penggunaan teknologi juga mendapat perhatian. Tim dosen Teknologi Pendidikan memberikan edukasi kepada orang tua dan guru mengenai penggunaan gawai secara bijak bagi anak usia dini. Di sisi lain, pengenalan mata uang rupiah melalui media abjad serta penguatan karakter menjadi pelengkap rangkaian pembelajaran yang dirancang secara interaktif.
Menurut Onisimus, kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi Tridharma Perguruan Tinggi sekaligus kontribusi IAKN Ambon dalam memperingati Hari Anak Nasional 2026 yang mengusung tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan."
"Anak membutuhkan ruang belajar yang aman, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan mereka. Permainan tradisional menyimpan nilai kebersamaan, kejujuran, disiplin, sekaligus menjadi cara sederhana untuk mengenalkan budaya sejak dini," ujarnya.
Melalui kolaborasi ini, FIPK IAKN Ambon ingin menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini tidak hanya bertumpu pada teknologi, tetapi juga pada kearifan lokal yang mampu membentuk karakter. Di tengah perubahan zaman, permainan tradisional dinilai tetap memiliki ruang penting sebagai bagian dari proses membangun generasi yang kreatif, berkarakter, dan mencintai budayanya.