Ambon, 21 Mei 2026 — IAKN Ambon melalui Program Studi Teologi Fakultas Ilmu Sosial dan Keagamaan (FISK) kembali menegaskan komitmennya dalam melahirkan lulusan yang peka terhadap realitas sosial, reflektif dalam berpikir, serta mampu menghadirkan pelayanan yang kontekstual dan berdampak bagi gereja maupun masyarakat.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Studi Kejemaatan yang digelar sebagai agenda tahunan pembekalan mahasiswa sebelum terjun langsung ke Jemaat GPM Yambila. Kegiatan berlangsung di Ruang Multimedia Lantai 2 FISK IAKN Ambon pada Kamis, 21 Mei 2026.
Program ini menjadi bagian penting dalam penguatan pembelajaran berbasis praktik lapangan yang dirancang untuk menjembatani teori akademik dengan realitas kehidupan jemaat di tengah masyarakat.
Dekan FISK IAKN Ambon, Febby N. Patty, menegaskan bahwa pendidikan teologi tidak dapat dipisahkan dari pengalaman nyata di lapangan. Menurutnya, mahasiswa teologi harus memiliki kemampuan membaca dinamika sosial gerejawi secara langsung agar mampu menghadirkan pelayanan yang relevan dengan kebutuhan jemaat.
“Teologi harus dihidupi dalam kehidupan nyata. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga harus mampu membaca situasi jemaat dan menjawab kebutuhan mereka secara konkret,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berbagai persoalan sosial seperti kemiskinan, pendidikan gereja, isu ekologi, hingga relasi sosial masyarakat menjadi bagian penting yang harus dipahami mahasiswa dalam proses pembelajaran teologi. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya dibentuk secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kemampuan analisis teologis yang kontekstual.
Menurut Febby, kegiatan Studi Kejemaatan juga menjadi bagian dari penguatan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dan Praktek Realitas Gereja (PRG) yang selama ini menjadi fondasi pembelajaran di Program Studi Teologi IAKN Ambon.
Sementara itu, narasumber kegiatan, Alce A. Sapulette, menekankan pentingnya kemampuan analisis sosial dalam pelayanan gerejawi. Ia menilai gereja harus dipahami dalam konteks sosial yang terus berubah agar pelayanan yang dilakukan tetap relevan dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

“Pelayanan gereja harus berangkat dari pemahaman yang utuh terhadap realitas sosial jemaat. Tanpa itu, pelayanan akan kehilangan daya jawab terhadap kebutuhan masyarakat,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, Program Studi Teologi FISK IAKN Ambon menegaskan arah pendidikan teologi yang tidak hanya berfokus pada penguasaan teori, tetapi juga membentuk karakter pelayan gereja yang adaptif, kritis, dan mampu hadir di tengah persoalan masyarakat secara nyata.
Kegiatan Studi Kejemaatan diharapkan menjadi ruang pembelajaran transformatif bagi mahasiswa untuk memahami kehidupan jemaat secara lebih mendalam, sekaligus memperkuat kontribusi institusi dalam menghadirkan pendidikan teologi yang relevan dengan tantangan zaman.
Penulis : Korneles Patty