AMBON, JUMAT 30 OKTOBER 2026 – Musik bukan sekadar rangkaian nada yang menghibur telinga. Di dalamnya tersimpan cerita, sejarah, identitas, hingga nilai-nilai kehidupan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, di tengah derasnya pengaruh musik global, mampukah musik Nusantara tetap mempertahankan jati dirinya tanpa kehilangan ruang untuk berinovasi?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam kegiatan Bedah Karya yang diselenggarakan Pascasarjana Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon dengan mengusung tema “Bunyi yang Bercerita: Kreativitas, Identitas, dan Inovasi dalam Penciptaan Musik Nusantara”.
Kegiatan akademik ini menjadi ruang perjumpaan antara pencipta musik, akademisi, dan praktisi untuk mengulas lebih jauh bagaimana sebuah karya musik tidak hanya dinilai dari keindahan komposisi, tetapi juga dari kekuatan pesan, identitas budaya, serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Dua komposer profesional, Dr. Nelsano A. Latupeirissa, M.Sn. dan Frangky Lawandatu, M.Sn., hadir untuk mempresentasikan karya-karya mereka. Selanjutnya, karya tersebut dibedah oleh sejumlah akademisi dan praktisi musik, yakni Prof. Junita Batubara, M.Sn., Dr. Hendri Virgin, M.Pd., Dr. Eko Raharjo, M.Hum., serta Branckly E. Picanussa, M.Th., LM.
Bertempat di Auditorium IAKN serta dilaksanakan secara hybrid, melalui pertemuan tatap muka dan dalam jaringan, kegiatan ini diikuti mahasiswa Pascasarjana IAKN Ambon. Format tersebut membuka kesempatan lebih luas bagi peserta untuk terlibat dalam diskusi, bertukar gagasan, serta memperdalam pemahaman mengenai perkembangan kreativitas dan penciptaan musik Nusantara.
Kegiatan diawali dengan laporan Ketua Panitia, Branckly E. Picanussa, M.Th., LM. Dalam laporannya, ia menjelaskan bahwa Bedah Karya dirancang sebagai ruang akademik bagi para komposer untuk mempresentasikan hasil kreativitasnya sekaligus memperoleh tanggapan, evaluasi, dan masukan kritis dari para akademisi serta praktisi musik.
Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada apresiasi karya, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun tradisi akademik yang mendorong kreativitas, inovasi, dan pengembangan identitas musik Nusantara.
Melalui forum tersebut, mahasiswa jenjang magister dan doktor diharapkan dapat memahami proses penciptaan musik secara lebih komprehensif, mulai dari aspek estetika, kreativitas, hingga keterkaitannya dengan nilai-nilai budaya, kearifan lokal, dan pengembangan keilmuan.
Sementara itu, Direktur Pascasarjana IAKN Ambon, Dr. Agusthina Ch. Kakiay, M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa Bedah Karya merupakan salah satu agenda akademik tahunan yang memiliki arti penting bagi pengembangan kualitas keilmuan mahasiswa, baik pada jenjang magister maupun doktor.

Menurut Agusthina, sebuah karya musik tidak cukup hanya diciptakan dan dinikmati. Karya tersebut juga perlu dikaji, didiskusikan, dan dipertanggungjawabkan secara akademik maupun kultural.
Ia menjelaskan, seorang komposer bukan hanya bertugas merangkai nada menjadi sebuah komposisi, melainkan juga memiliki peran dalam menghadirkan cerita, identitas, dan nilai-nilai budaya melalui bahasa musik.
Persoalan ini menjadi semakin relevan ketika musik Nusantara berhadapan dengan perkembangan industri musik global yang terus menawarkan berbagai bentuk, gaya, dan pendekatan penciptaan baru.
Agusthina mengajak peserta untuk kembali merefleksikan posisi identitas budaya dalam karya musik masa kini. Apakah dalam komposisi yang diciptakan saat ini masih terdengar dentang tifa dan alunan totobuang? Apakah nilai-nilai kehidupan orang basudara dan kekayaan tradisi masyarakat Maluku masih mendapatkan ruang dalam ekspresi musikal generasi sekarang?
Pertanyaan tersebut bukan sekadar nostalgia terhadap musik tradisional. Lebih dari itu, menjadi refleksi tentang bagaimana kekayaan budaya lokal dapat terus dihadirkan dalam karya-karya kreatif tanpa harus menutup diri terhadap perkembangan zaman.
Menurut Agusthina, tradisi dan inovasi tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang saling bertentangan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan, sepanjang proses penciptaan tetap memberikan perhatian terhadap akar budaya dan identitas yang menjadi sumber inspirasi.
Karena itu, ia berharap kegiatan Bedah Karya mampu melahirkan dialog yang kritis, terbuka, dan konstruktif. Para peserta diberikan ruang untuk mengutip, mengapresiasi, sekaligus mengkritisi karya yang dipresentasikan. Dalam proses tersebut, kejujuran intelektual dan tanggung jawab ilmiah menjadi prinsip penting yang harus dijaga.
Ruang kritik, menurutnya, bukan dimaksudkan untuk menjatuhkan pencipta karya, melainkan menjadi bagian dari proses pengembangan kualitas kreativitas dan pendalaman pemahaman akademik. Dengan adanya tanggapan dari berbagai perspektif, sebuah karya diharapkan dapat terus berkembang dan memiliki nilai yang lebih luas.
Lebih jauh, Agusthina berharap hasil diskusi dalam kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai percakapan akademik di ruang auditorium. Gagasan dan karya yang dihasilkan diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan musik gereja Nusantara, musik pendidikan, serta industri musik di Maluku dan Indonesia.
Harapan ini sekaligus menempatkan perguruan tinggi sebagai salah satu ruang penting dalam merawat, mengembangkan, dan memperkenalkan kekayaan musik Nusantara melalui pendekatan ilmiah dan kreativitas seni.
Bagi mahasiswa Pascasarjana, kegiatan semacam ini juga menjadi kesempatan untuk mempertemukan teori dengan praktik, sekaligus membangun kepekaan terhadap persoalan budaya yang berkembang di tengah masyarakat.
Di tengah perubahan selera musik dan kemajuan teknologi produksi, tantangan pencipta musik bukan hanya menghasilkan komposisi yang menarik, tetapi juga menghadirkan karya yang memiliki karakter dan identitas. Kekayaan tradisi lokal dapat menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan bentuk-bentuk ekspresi musikal yang segar tanpa menghilangkan nilai-nilai yang diwariskan.

Melalui kegiatan Bedah Karya ini, Pascasarjana IAKN Ambon menegaskan bahwa musik Nusantara bukan sekadar peninggalan masa lalu yang hanya perlu dikenang. Musik merupakan bagian dari identitas budaya yang terus hidup, berkembang, dan dapat berdialog dengan berbagai perubahan zaman.
Sebab, di balik setiap bunyi, selalu ada cerita yang layak didengar. Dan selama identitas budaya tetap dirawat melalui kreativitas, musik Nusantara akan terus memiliki ruang untuk tumbuh, berinovasi, serta memperkenalkan kekayaan Indonesia kepada dunia.