[INFORMASI] Pengumuman Penjaringan Bakal Calon Wakil Rektor, Dekan, Wakil Dekan, Direktur, Wakil Direktur, Ketua Program Studi, Ketua Lembaga, Kepala UPT dan Kepala SPI IAKN Ambon Periode 2026 - 2030 - 22 May 2026 00:00 [PENTING] Pengumuman Peniaringan Bakal Calon Wakil Rektor, Dekan, Wakil Dekan, DireKur, Wakil Direktur, Ketua Program Studi, Ketua Lembaga dan Kepala UPT IAKN Ambon Periode 2026 - 2030 - 21 May 2026 00:00 [INFORMASI] Rencana Strategis (RESTRA) Institut Agama Kristen Negeri Ambon tahun 2025 - 2029 - 09 Mar 2026 00:00
Beranda / Berita / Mahasiswa IAKN Ambon Didorong Jadi Pelopor Moderasi Beragama untuk Bangun Harmoni Sosial
Umum 13 March 2026 99 dilihat

Mahasiswa IAKN Ambon Didorong Jadi Pelopor Moderasi Beragama untuk Bangun Harmoni Sosial

Mahasiswa IAKN Ambon Didorong Jadi Pelopor Moderasi Beragama untuk Bangun Harmoni Sosial

Ambon, 13 Maret 2026 — Mahasiswa dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga kerukunan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Pesan tersebut mengemuka dalam pemaparan materi bertajuk “Mahasiswa IAKN Ambon sebagai Agen Pelopor Moderasi Beragama dalam Membangun Harmoni Sosial” yang disampaikan oleh Yamres Pakniany, S.Si. M.Si dalam kegiatan Pelatihan Pelopor Moderasi Beragama Tahun 2026 di Auditorium IAKN Ambon. Kegiatan ini juga di hadiri oleh rector IAKN Ambon, Prof. Dr. Yance Z. Rumahuru, MA. serta mahasiswa IAKN Ambon.

FMgKm0OSL9Kk5vS9fSeDJT2SLaWGnDW13hXSKTbG.jpg

Rektor IAKN Ambon Prof. Dr. Yance Z. Rumahuru, MA. dalam sambutannya menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman, baik dari sisi suku, budaya, bahasa, maupun agama. Keberagaman tersebut, menurutnya, merupakan kekayaan bangsa yang harus dijaga melalui sikap saling menghargai, toleransi, dan keterbukaan terhadap perbedaan.

“Keberagaman bukanlah sumber perpecahan, melainkan kekuatan bangsa jika dikelola dengan sikap saling menghormati,” ujar rektor

Rektor menjelaskan bahwa salah satu pendekatan penting dalam menjaga kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk adalah melalui moderasi beragama. Moderasi beragama dipahami sebagai cara pandang dan praktik beragama yang menempatkan diri pada posisi tengah, tidak ekstrem dan tidak berlebihan dalam memahami ajaran agama.

Yamres Pakniany, S.Si. M.Si,. dalam pemaparannya menjelaskan bahwa moderasi beragama tidak hanya menjadi konsep teologis, tetapi juga merupakan sikap sosial yang menempatkan nilai kemanusiaan dan perdamaian sebagai dasar dalam kehidupan bermasyarakat. Prinsip ini mencakup penghargaan terhadap perbedaan keyakinan, menjunjung tinggi toleransi, menjaga keseimbangan dalam menjalankan ajaran agama, serta mengedepankan perdamaian dalam kehidupan bersama.

Pendekatan tersebut dinilai semakin relevan di tengah dinamika masyarakat modern yang kompleks. Dalam diskusi yang berlangsung, sejumlah tantangan terhadap kerukunan antarumat beragama turut disoroti, terutama di era globalisasi dan perkembangan teknologi informasi.

Beberapa tantangan tersebut antara lain penyebaran paham radikalisme dan ekstremisme, maraknya hoaks dan ujaran kebencian di media sosial, fanatisme kelompok yang berlebihan, serta masih rendahnya pemahaman masyarakat tentang toleransi. Kondisi ini membuat upaya penguatan moderasi beragama menjadi semakin penting, terutama di kalangan generasi muda yang aktif di ruang digital.

Dalam konteks tersebut, mahasiswa dipandang memiliki posisi penting sebagai kelompok intelektual sekaligus calon pemimpin masa depan. Peran mahasiswa dalam moderasi beragama, kata Pakniany, dapat dilihat melalui dua fungsi utama, yakni sebagai agent of change atau agen perubahan dan sebagai social control atau kontrol sosial.

Sebagai agen perubahan, mahasiswa diharapkan mampu mendorong lahirnya masyarakat yang lebih toleran, inklusif, dan damai. Sementara sebagai kontrol sosial, mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk mengawasi sekaligus mengkritisi berbagai fenomena sosial yang berpotensi memicu konflik di tengah masyarakat.

Kontribusi mahasiswa dalam membangun harmoni sosial dapat diwujudkan melalui berbagai langkah konkret, seperti menyebarkan nilai-nilai toleransi, mengembangkan dialog antaragama, memanfaatkan media sosial secara positif, serta menginisiasi kegiatan sosial lintas komunitas.

Melalui langkah-langkah tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi penerima pengetahuan di ruang akademik, tetapi juga menjadi motor penggerak perubahan sosial yang membawa nilai perdamaian di tengah masyarakat yang majemuk.

Kegiatan pelatihan ini menegaskan bahwa moderasi beragama merupakan pendekatan penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan beragama di Indonesia. Sikap moderat, toleran, dan saling menghargai menjadi fondasi utama dalam menciptakan kehidupan sosial yang harmonis.

Dengan peran strategis yang dimiliki, mahasiswa diharapkan mampu menjadi pelopor dalam menyebarkan nilai-nilai moderasi beragama melalui pendidikan, diskusi, kegiatan sosial, serta pemanfaatan media digital secara positif. Peran tersebut menjadikan mahasiswa tidak hanya hadir sebagai komunitas akademik, tetapi juga sebagai kekuatan moral dan sosial yang menjaga persatuan di tengah keberagaman bangsa.

Penulis : Thobias Rahalus