[INFORMASI] Edaran Cuti Bersama - 16 Sep 2026 00:00 • [INFORMASI] Pengumuman Penjaringan Bakal Calon Wakil Rektor, Dekan, Wakil Dekan, Direktur, Wakil Direktur, Ketua Program Studi, Ketua Lembaga, Kepala UPT dan Kepala SPI IAKN Ambon Periode 2026 - 2030 - 22 May 2026 00:00 • [PENTING] Pengumuman Peniaringan Bakal Calon Wakil Rektor, Dekan, Wakil Dekan, DireKur, Wakil Direktur, Ketua Program Studi, Ketua Lembaga dan Kepala UPT IAKN Ambon Periode 2026 - 2030 - 21 May 2026 00:00 •
Beranda / Berita / Komunikasi Ekologi Didorong Jadi Ruang Suara Masyarakat Hadapi Krisis Lingkungan
Workshop/Seminar 28 September 2026 17 dilihat

Komunikasi Ekologi Didorong Jadi Ruang Suara Masyarakat Hadapi Krisis Lingkungan

Komunikasi Ekologi Didorong Jadi Ruang Suara Masyarakat Hadapi Krisis Lingkungan

Ambon, 28 September 2026 - Persoalan abrasi pantai, sampah plastik, kerusakan terumbu karang, eksploitasi sumber daya laut hingga alih fungsi hutan tidak hanya menjadi persoalan lingkungan. Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat melalui terganggunya sumber penghidupan, kesehatan, ruang hidup, hingga keberlanjutan kehidupan generasi mendatang.

Di tengah persoalan tersebut, komunikasi dinilai memiliki peran penting untuk memastikan masyarakat tidak hanya menjadi pihak yang terdampak, tetapi juga memiliki ruang untuk menyampaikan pengalaman, kebutuhan, dan gagasan dalam menjaga lingkungan.

berangkat dari gagasan tersebut dalam Seminar Nasional bertema “Urgensi Kajian Komunikasi di Tengah Disrupsi Sosial Ekologis” yang digelar Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan Kristen (FISK) Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon di Auditorium IAKN Ambon, Senin (28/9/2026).

Rektor IAKN Ambon, Dr. Elka Anakotta, M.Si., dalam sambutannya mengatakan bahwa, komunikasi tidak semestinya dipahami hanya sebagai proses penyampaian pesan. Dalam konteks persoalan ekologis, komunikasi dapat menjadi instrumen untuk membangun kesadaran, mempertemukan kepentingan, serta memperkuat posisi masyarakat dalam menghadapi perubahan lingkungan.

Menurut Dr. Elka, persoalan ekologis berkaitan erat dengan kehidupan manusia. Kerusakan lingkungan tidak hanya menyentuh kondisi alam, tetapi juga memengaruhi hubungan sosial, keberlangsungan ekonomi masyarakat, serta relasi manusia dengan Tuhan.

Karena itu, komunikasi perlu diarahkan untuk membangun kesadaran ekologis sekaligus membuka ruang partisipasi bagi masyarakat yang selama ini berhadapan langsung dengan persoalan lingkungan.

Petani, perempuan, masyarakat adat, nelayan, serta kelompok masyarakat lainnya perlu memiliki ruang untuk menyampaikan pengalaman dan pengetahuan mereka dalam menjaga lingkungan. Pengetahuan masyarakat tersebut, kata dia, penting ditempatkan sebagai bagian dari upaya membangun pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Perspektif tersebut menjadi penting bagi Maluku yang memiliki wilayah kepulauan dengan ketergantungan masyarakat yang kuat terhadap laut dan sumber daya alam. Perubahan lingkungan di wilayah pesisir dan laut dapat berpengaruh langsung terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.6TkTS94nCTLPz6iq0tOHUkmNhTtl1cksmrfnZQ4H.jpg

Dekan FISK IAKN Ambon, Dr. Sipora B. Warella, S.Ag., M.Pd.K., mengatakan perkembangan teknologi komunikasi memberikan peluang sekaligus tantangan dalam merespons persoalan tersebut.

Teknologi digital, menurut dia, dapat dimanfaatkan untuk memperluas pendidikan lingkungan, menyebarluaskan informasi berbasis fakta, serta menghubungkan masyarakat dengan berbagai pihak yang memiliki sumber daya dan pengetahuan untuk membantu menyelesaikan persoalan sosial ekologis.

Namun, pemanfaatan teknologi tidak cukup hanya berorientasi pada kecepatan penyebaran informasi. Informasi yang disampaikan harus mampu mendorong kesadaran dan perubahan perilaku masyarakat.

“Komunikasi harus dapat menjadi jembatan antara pengetahuan, masyarakat dan tindakan nyata dalam menghadapi persoalan sosial ekologis,” demikian gagasan yang mengemuka dalam forum tersebut.

Ketua Panitia Seminar Nasional, Muis S. A. Pikahulan, M.H., melaporkan bahwa kegiatan tersebut berangkat dari berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat akibat disrupsi digital dan ekologis.

Abrasi pantai, pencemaran sampah plastik, eksploitasi sumber daya laut, kerusakan terumbu karang, hingga alih fungsi hutan dan kawasan tangkapan air merupakan persoalan yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Menurut Pikahulan, komunikasi ekologi tidak boleh berhenti sebagai wacana akademik. Pengetahuan yang lahir dari perguruan tinggi harus dapat diterjemahkan menjadi informasi yang mudah dipahami masyarakat dan mendorong keterlibatan publik dalam menjaga lingkungan.

“Komunikasi harus hadir untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Pemanfaatan media digital juga menjadi salah satu peluang yang dapat dikembangkan. Masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai lingkungan, sementara pengalaman dan persoalan yang mereka hadapi dapat disampaikan secara lebih luas kepada pemerintah, akademisi, komunitas maupun pemangku kepentingan lainnya.

Dengan pendekatan tersebut, komunikasi diharapkan tidak sekadar menjadi sarana menyampaikan informasi mengenai kerusakan lingkungan, tetapi juga menjadi ruang dialog untuk menemukan solusi bersama.

Seminar menghadirkan Prof. Anang Sujoko, M.Si., D.Comm., Dr. Samsul Maarif, M.A., Dr. Agusthina Ch. Kakiay, M.Si., Febby N. Patty, D.Th., M.Th., dan Dr. J. H. Kelelufna, M.Th.

x2jQjs1bCTC0FkgtWUjBMjfKNwbZQydysCvJhsJc.jpg

Para narasumber membahas komunikasi dan ekologi dari berbagai perspektif keilmuan. Pembahasan diarahkan pada bagaimana perguruan tinggi dapat memperkuat literasi masyarakat, mendokumentasikan pengetahuan lokal, memperluas ruang partisipasi publik, serta mendorong komunikasi yang berpihak pada keberlanjutan kehidupan.

Bagi IAKN Ambon, kajian komunikasi ekologis menjadi bagian dari upaya menghadirkan ilmu pengetahuan yang tidak berhenti di ruang akademik, tetapi dapat memberi manfaat bagi masyarakat.

Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menjadi tempat menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang yang membantu masyarakat memahami persoalan, menyuarakan kepentingannya, dan menemukan jalan keluar atas berbagai tantangan yang dihadapi.