Ambon, 1 April 2026 — Institut Agama Kristen Negeri Ambon kembali menegaskan perannya sebagai pelopor pendidikan inklusif di kawasan timur Indonesia. IAKN Ambon ini menjadi rujukan bagi Universitas Victory Sorong dalam pengembangan layanan bagi mahasiswa disabilitas melalui sebuah sesi berbagi pengalaman (sharing session) yang berlangsung di ruang rapat rektor - Gedung pascasarjana IAKN Ambon.

Rektor IAKN Ambon, Prof. Dr. Yance Z. Rumahuru, MA. menyambut langsung kunjungan perwakilan Universitas Victory Sorong, yakni Jola Uktoseja dan Melda Manuhuttu. Pertemuan tersebut difokuskan pada diskusi mendalam terkait sistem pendampingan mahasiswa disabilitas yang telah diterapkan di IAKN Ambon.
Dalam kesempatan itu, Rektor menegaskan bahwa mahasiswa berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk mengakses pendidikan tinggi tanpa hambatan. Ia menekankan pentingnya transformasi kampus agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan mahasiswa, baik dari aspek layanan, pendekatan pembelajaran, hingga penyediaan lingkungan yang inklusif dan bebas diskriminasi.
“Perguruan tinggi harus hadir sebagai ruang yang ramah bagi semua, termasuk mahasiswa disabilitas. Tidak boleh ada pembatasan dalam akses pendidikan,” tegas rektor.

Sebagai bagian dari komitmen tersebut, IAKN Ambon terus mengembangkan berbagai fasilitas pendukung. Di antaranya penyediaan jalur aksesibilitas, toilet ramah disabilitas, serta penguatan jejaring kerja sama dengan komunitas lokal seperti Rumah Generasi Ambon dan pemerintah daerah untuk memastikan keberlanjutan layanan.
Sementara itu, pihak Universitas Victory Sorong mengungkapkan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk mempelajari secara langsung sistem konseling dan pendampingan yang dijalankan melalui Unit Layanan Disabilitas di IAKN Ambon. Selain itu, kedua institusi juga menjajaki peluang kerja sama di sejumlah bidang strategis, seperti Pendidikan Agama Kristen, Pendidikan Bahasa Inggris, dan Sistem Informasi.
Kepada Humas IAKN Ambon, perwakilan Universitas Victory Sorong menyebut IAKN Ambon sebagai role model dalam pengembangan layanan disabilitas, khususnya dalam aspek konseling. Mereka berharap praktik baik yang dipelajari dapat diadaptasi untuk meningkatkan kualitas layanan bagi mahasiswa disabilitas di kampus mereka.