AMBON – Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama Republik Indonesia melakukan monitoring dan evaluasi (Monev) terhadap pelaksanaan bantuan beasiswa pendidikan bagi mahasiswa Orang Asli Papua (OAP) yang sedang menempuh pendidikan di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon, Kamis, 8 Oktober 2026.
Monev tersebut dilakukan untuk memastikan bantuan pendidikan yang diberikan pemerintah tidak hanya berhenti pada pemberian beasiswa, tetapi benar-benar mendukung keberlangsungan pendidikan mahasiswa OAP hingga menyelesaikan studi.
Kegiatan Monev bantuan beasiswa pendidikan bagi mahasiswa OAP ongoing dan mahasiswa OAP tahun 2026 tersebut dihadiri mahasiswa OAP yang melakukan perkuliahan di IAKN Ambon.
Tim Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama RI dipimpin Kasubdit Pendidikan Tinggi, Dr. Weldemina Yudit Tiwery, M.Hum, bersama Almeida Samosir, Analis Kebijakan Ahli Pertama.
Kehadiran tim tersebut didampingi Kepala Biro AUAK IAKN Ambon, Rowles Hasugian, S.Si., M.Si.
Dalam arahannya, Dr. Weldemina Yudit Tiwery mengatakan, monitoring dan evaluasi tersebut merupakan bagian dari tindak lanjut terhadap catatan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Menurut Weldemina, sebelumnya terdapat catatan terkait belum optimalnya monitoring terhadap mahasiswa penerima bantuan pendidikan.
“Per hari ini di delapan PTKKN ada tim Subdit Pendidikan Tinggi yang hadir di sana untuk monitoring dan evaluasi. Ini juga bagian dari temuan Pak Karo BPK kemarin, menegur kami tidak ada monitoring pada tahun kemarin,” kata Weldemina.
Ia mengatakan, salah satu catatan yang menjadi perhatian adalah pemerintah memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengikuti pendidikan, tetapi kemudian tidak mengetahui perkembangan mereka karena tidak dilakukan pemantauan secara memadai.
“Sering kita minta orang masuk kuliah atau setelah itu dilepaskan, enggak tahu apa yang terjadi, tidak ada monitor. Itu satu catatan BPK dan karena itu kami tindaklanjuti,” ujarnya.
Menurut Weldemina, monitoring tersebut menjadi penting untuk memastikan mahasiswa tetap mengikuti proses perkuliahan dan memperoleh perhatian selama menempuh pendidikan.
Weldemina juga mengungkapkan, keberlanjutan anggaran bantuan pendidikan bagi mahasiswa OAP sebelumnya sempat menghadapi dinamika.
Ia mengatakan, setelah 17 Agustus, pihaknya bersama direktur membahas anggaran tersebut. Dalam pembahasan itu muncul rencana agar anggaran ditarik.
Namun, Weldemina menyampaikan argumentasi bahwa keberadaan bantuan pendidikan merupakan bagian dari kehadiran pemerintah bagi anak-anak Papua.
“Waktu itu saya bilang, waktu adalah bagian dari kehadiran pemerintah bagi anak-anak Papua yang diwujudkan melalui beasiswa Kristen. Kalau itu diambil dari kami, maka apa percepatan pembangunan Papua yang menjadi capaian dari bagian kami itu di mana?” katanya.
Menurut dia, setelah melalui pembahasan yang cukup alot, masih terdapat anggaran yang dapat digunakan untuk mendukung program tersebut.
Karena itu, Weldemina menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang mendukung keberlanjutan program tersebut.
Mahasiswa OAP diminta mengejar ketertinggalan perkuliahan
Weldemina mengatakan, mahasiswa OAP yang mengikuti pendidikan melalui program tersebut perlu mendapat perhatian, terutama karena sebagian mahasiswa datang ketika proses perkuliahan sudah berjalan.
Ia menyebut mahasiswa perlu dibuatkan jadwal perkuliahan yang jelas untuk memastikan proses pendidikan mereka tetap berjalan meskipun datang setelah perkuliahan dimulai.
“Semua kampus PTKKN akan membuat jadwal perkuliahan dari OAP ini yang meyakinkan bahwa mereka berkuliah. Meskipun sudah jalan, sudah UTS, tetapi mereka tetap kita perhatikan dan terkejar semua ketertinggalan mereka,” ujarnya.

Menurut Weldemina, hal tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab pendidikan.
Karena itu, setelah kegiatan monitoring dan evaluasi, akan disusun timeline perkuliahan mahasiswa, mulai dari proses perkuliahan hingga waktu penyelesaian studi.
“Memastikan bahwa mereka punya beban belajar sama dengan teman-teman mereka yang bukan OAP,” katanya.
Administrasi beasiswa segera diproses
Selain memantau proses perkuliahan, Monev juga dilakukan untuk memastikan berbagai kendala yang dihadapi mahasiswa dapat dicatat dan ditindaklanjuti.
Weldemina mengatakan, seluruh berkas administrasi mahasiswa juga akan dikumpulkan sebagai bagian dari proses pencairan bantuan.
“Selain nanti kita mencatatkan apa saja yang merupakan kendala dari teman-teman mahasiswa, tapi juga nanti seluruh berkas administrasi dari adik-adik ini sudah terkumpul dan itu yang nanti kami bawa setelah tiba di Jakarta untuk segera disertifikasi lalu dibayarkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, anggaran bantuan pendidikan tersebut baru dicairkan sehingga perlu segera diproses agar dapat dimanfaatkan mahasiswa.
Weldemina juga menyebut perjalanan tim ke Papua sebelumnya menjadi bagian dari upaya untuk memastikan anggaran, termasuk anggaran perjalanan dinas, dapat segera diproses.
IAKN Ambon menjadi salah satu kampus dengan mahasiswa OAP terbanyak
Weldemina mengatakan, IAKN Ambon menjadi salah satu perguruan tinggi yang mendukung program pendidikan bagi mahasiswa OAP.
Menurut dia, dibandingkan sejumlah kampus lainnya, jumlah mahasiswa OAP yang mengikuti pendidikan di IAKN Ambon cukup banyak.
“Karena salah satu kampus yang mendukung OAP ini adalah Ambon dengan Papua Sentani, karena kampus yang lain itu mahasiswanya sedikit. Yang terbanyak itu ada di IAKN,” katanya.
Ia pun mendorong agar semakin banyak Orang Asli Papua dapat memperoleh kesempatan menempuh pendidikan di Ambon.
“Datanglah dan jadilah, masukkan Ambon di sini, orang asli Papua yang belajar di Ambon,” ujarnya.
Namun, karena sebagian mahasiswa datang terlambat, ia meminta agar pengaturan perkuliahan dilakukan secara khusus dan lebih padat untuk mengejar ketertinggalan.
Pemerintah minta kampus laporkan perkembangan mahasiswa
Weldemina juga mengatakan, Direktorat Pendidikan akan meminta laporan perkembangan mahasiswa penerima bantuan dari setiap kampus pada setiap semester.
“Setiap semester kami minta laporan dari tiap kampus, progres dari OAP,” katanya.
Ia menegaskan, mahasiswa perlu menyelesaikan proses administrasi agar bantuan dapat segera dibayarkan.
“Anggaran mereka sudah ada dan karena itu akan segera dibayarkan, tergantung pada kelengkapan administrasinya. Kalau sudah lengkap semua maka segera dibayarkan,” ujarnya.
Menurut Weldemina, perhatian pemerintah melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen terhadap mahasiswa OAP merupakan bagian dari upaya memenuhi kebutuhan pendidikan mereka.
“Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, Direktorat Pendidikan sungguh memahami kebutuhan adik-adik. Makanya beasiswa kalian lebih dari yang lain, dari KIP Kuliah yang lain,” katanya.
Ia meminta mahasiswa memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya.
“Manfaatkanlah itu untuk kuliah sebaik-baiknya. Hebatkan diri sehebat-hebatnya, cerdaskan diri secerdas-cerdasnya, supaya pulang di Papua itu bangga,” ujarnya.
Weldemina berharap mahasiswa OAP yang menyelesaikan pendidikan di rantau dapat kembali ke Papua sebagai sarjana yang memiliki kemampuan dan dapat diandalkan.
“Jadi orang Papua yang pulang dari rantau sudah menjadi sarjana yang hebat, yang diandalkan di Papua,” katanya.
Ia menegaskan, program tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mendukung percepatan pembangunan Papua dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Papua.
“Program ini adalah bagian dari percepatan pembangunan masyarakat Papua dan percepatan dan akselerasi SDM Papua. Teman-teman adalah bagian dari SDM Papua yang dikirim ke sini,” ujarnya.
Wakil Rektor I : Mahasiswa OAP mendapat pelayanan yang sama
Sementara itu, Wakil Rektor I IAKN Ambon, Dr. Herly J. Lesilolo, M.Pd, menyampaikan terima kasih kepada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen yang telah melakukan kunjungan dan melihat secara langsung kondisi mahasiswa OAP di IAKN Ambon.
Herly mengatakan, mahasiswa OAP yang berasal dari berbagai angkatan, mulai dari 2020 hingga 2026, mendapatkan pelayanan yang sama dengan mahasiswa lainnya.
“Kami mau melaporkan kepada Ibu seluruh aktivitas kegiatan belajar yang berlangsung di sini. Mereka semua sama dengan mahasiswa yang lain sehingga tidak ada yang membedakan apa pun di antara mahasiswa OAP dengan mahasiswa yang ada di sini. Semua pelayanan sama, perhatian,” kata Herly.
Menurutnya, berbagai keluhan yang dialami mahasiswa juga menjadi perhatian pihak kampus.
Ia mengatakan, dosen penasihat akademik bersama program studi turut membantu mahasiswa OAP selama menjalani proses pendidikan.
“Di sini ada dosen penasihat akademik bersama-sama dengan teman-teman di Ambon. Ada prodi yang juga setia membantu penuh dengan pengorbanan kepada mahasiswa OAP,” ujarnya.
Herly menegaskan, IAKN Ambon akan terus memberikan pendampingan kepada mahasiswa OAP selama mereka menempuh pendidikan.
“Kami sangat percaya bahwa kami sangat mengasihi mereka dan tetap akan melindungi mereka dari hal-hal yang sebetulnya ada yang bisa kami pantau, ada juga yang tidak bisa kami pantau,” katanya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk tetap tekun mengikuti perkuliahan dan menyelesaikan pendidikan dengan baik.
Mahasiswa diminta serius manfaatkan beasiswa
Herly mengingatkan mahasiswa OAP bahwa beasiswa yang mereka terima merupakan dukungan pemerintah melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama.
Karena itu, bantuan tersebut harus digunakan dengan sebaik-baiknya untuk mendukung proses pendidikan.
“Teman-teman harus mengingat bahwa beasiswa yang diberikan kepada teman-teman adalah dari pemerintah melalui Dirjen Bimas Kristen sehingga digunakan uang itu sebaik-baik mungkin,” ujarnya.
Ia juga meminta mahasiswa dari angkatan 2020 mendapat perhatian khusus agar dapat menyelesaikan studi secepatnya.
“Usahakan bagi mahasiswa dari angkatan 2020, Ibu Dekan, Bapak Dekan, tolong perhatikan. Jika dibantu untuk bisa selesai, mungkin tahun depan sudah bisa selesai,” katanya.
Dengan demikian, Herly berharap setiap angkatan mahasiswa OAP dapat menyelesaikan pendidikan tepat waktu. Ia juga meminta mahasiswa untuk tekun belajar dan mempertahankan prestasi akademik.
“Kami juga minta dari teman-teman mahasiswa supaya tekun belajar, tekun belajar, tekun belajar, supaya nilai-nilai tetap, IP-nya tetap terbaik,” ujarnya.
Herly juga meminta mahasiswa memanfaatkan peran dosen penasihat akademik sebagai tempat berkonsultasi apabila menghadapi persoalan selama menjalani perkuliahan.
IAKN Ambon siap dampingi mahasiswa OAP
Herly menyampaikan apresiasi kepada Rektor IAKN Ambon yang telah memberikan kesempatan kepada 17 mahasiswa OAP pada tahun 2026 untuk mengikuti pendidikan di IAKN Ambon.
Ia mengatakan, pihak kampus akan terus bekerja sama untuk memberikan dukungan kepada mahasiswa tersebut.
“Kami bekerja sama untuk tetap ada bersama-sama dengan mereka, mendukung mereka dan dengan pertolongan Tuhan kami akan selalu mendampingi mereka dan menasihati bahkan membantu sampai mereka bisa selesai kuliah tepat waktu,” katanya.
Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi tersebut, pemerintah dan IAKN Ambon berharap pelaksanaan program bantuan beasiswa bagi mahasiswa OAP dapat berjalan lebih baik, baik dari sisi administrasi, proses perkuliahan maupun pendampingan mahasiswa.

Program tersebut diharapkan tidak hanya memberikan akses pendidikan tinggi bagi Orang Asli Papua, tetapi juga mendorong lahirnya sumber daya manusia Papua yang berkualitas dan dapat kembali berkontribusi bagi pembangunan di daerah asalny