Ambon, 26 Agustus 2026 — Transformasi digital yang semakin masuk ke ruang pendidikan anak usia dini menjadi perhatian mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Kristen (FIPK) IAKN Ambon. Melalui kegiatan debat tematik, mahasiswa diajak mengkritisi manfaat sekaligus risiko penggunaan teknologi digital terhadap perkembangan anak.

Kegiatan yang berlangsung di Rumah Moderasi Beragama IAKN Ambon itu mengangkat tema “Transformasi Digital dalam Pendidikan Anak Usia Dini”, dengan isu utama “Apakah Digitalisasi Menjadi Kebutuhan atau Ancaman bagi Perkembangan Anak Usia Dini?”
Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Kristen IAKN Ambon, Dr. Onisimus Amtu, M.Pd., membuka kegiatan tersebut. Debat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melihat transformasi digital dalam pendidikan tidak semata-mata sebagai perkembangan teknologi, tetapi sebagai fenomena yang perlu dikaji secara kritis dari perspektif pendidikan dan perkembangan anak.

Digitalisasi dalam pendidikan anak usia dini dinilai menawarkan sejumlah peluang. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik, interaktif, serta adaptif terhadap kebutuhan perkembangan anak.
Pemanfaatan teknologi juga dapat membantu guru mengembangkan kreativitas dalam merancang pembelajaran sekaligus memperluas akses terhadap berbagai sumber belajar yang sebelumnya sulit dijangkau.

Namun, penggunaan teknologi digital pada anak usia dini juga menyimpan sejumlah tantangan. Intensitas penggunaan perangkat digital yang berlebihan berpotensi memengaruhi perkembangan sosial, emosional, bahasa, hingga kesehatan fisik anak.
Penggunaan gawai yang tidak terkontrol juga dikhawatirkan mengurangi interaksi langsung anak dengan teman sebaya, keluarga, dan lingkungan sekitar. Padahal, interaksi sosial dan pengalaman nyata menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang anak usia dini.
Karena itu, transformasi digital dalam PAUD tidak hanya membutuhkan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga pemahaman mengenai batasan, tujuan, serta pola pemanfaatannya sesuai tahapan perkembangan anak.

Melalui debat tersebut, mahasiswa didorong untuk membangun argumentasi berdasarkan berbagai perspektif. Mereka tidak hanya dituntut memahami perkembangan teknologi pendidikan, tetapi juga mengkaji peluang, risiko, dan konsekuensi digitalisasi terhadap proses tumbuh kembang anak.
Kegiatan diawali dengan lomba debat tematik yang melibatkan mahasiswa. Setelah sesi debat, kegiatan dilanjutkan dengan penguatan akademik melalui pemaparan materi dari sejumlah narasumber.
Para narasumber yang terlibat antara lain Ketua Yayasan Pohon Sagoe Maluku, Imanuel Friendly Lawalata, Izak Jakobis Makulua, dan Thobias Rahalus. Materi yang diberikan memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai posisi teknologi dalam pendidikan anak usia dini serta pentingnya penggunaan media digital secara tepat dan bertanggung jawab.
Debat tematik ini sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menyampaikan argumentasi, serta melihat persoalan digitalisasi pendidikan secara lebih komprehensif.
Digitalisasi pada akhirnya tidak sekadar dipandang sebagai kebutuhan atau ancaman. Dampaknya terhadap anak sangat bergantung pada bagaimana teknologi digunakan, untuk tujuan apa, serta sejauh mana guru dan orang tua tetap menjaga keseimbangan antara pengalaman digital dengan interaksi sosial dan aktivitas nyata dalam kehidupan anak.