[INFORMASI] Pengumuman Penjaringan Bakal Calon Wakil Rektor, Dekan, Wakil Dekan, Direktur, Wakil Direktur, Ketua Program Studi, Ketua Lembaga, Kepala UPT dan Kepala SPI IAKN Ambon Periode 2026 - 2030 - 22 May 2026 00:00 [PENTING] Pengumuman Peniaringan Bakal Calon Wakil Rektor, Dekan, Wakil Dekan, DireKur, Wakil Direktur, Ketua Program Studi, Ketua Lembaga dan Kepala UPT IAKN Ambon Periode 2026 - 2030 - 21 May 2026 00:00 [INFORMASI] Rencana Strategis (RESTRA) Institut Agama Kristen Negeri Ambon tahun 2025 - 2029 - 09 Mar 2026 00:00
Beranda / Berita / Anak Jadi Agen Perdamaian, Dr. Agusthina Ch. Kakiay Paparkan Model Rekonsiliasi Antargenerasi
Wisuda 24 April 2026 44 dilihat

Anak Jadi Agen Perdamaian, Dr. Agusthina Ch. Kakiay Paparkan Model Rekonsiliasi Antargenerasi

Anak Jadi Agen Perdamaian, Dr. Agusthina Ch. Kakiay Paparkan Model Rekonsiliasi Antargenerasi

Ambon, 24 April 2026 — Direktur Pascasarjana IAKN Ambon, Dr. Agusthina Ch. Kakiay, M.Si,. menegaskan bahwa anak-anak dapat berperan sebagai agen penting dalam membangun perdamaian, bahkan ketika upaya orang dewasa mengalami kebuntuan.

QYxOKwmYWI9MaAbe3CVMPlBZxXCxDEAs74Pup8vu.jpg

Hal itu disampaikan dalam orasi ilmiah pada Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana dan Pascasarjana Periode I Tahun 2026 yang berlangsung di Auditorium IAKN Ambon.

Dalam paparannya, Kakiay menekankan bahwa kedamaian sejati tidak selalu lahir dari forum formal atau keputusan elite, melainkan dapat tumbuh dari tindakan sederhana anak-anak. Ia mencontohkan aktivitas seperti berjalan bersama, bernyanyi bersama, hingga membangun interaksi lintas batas sebagai bentuk nyata meruntuhkan sekat konflik.

“Anak-anak menunjukkan bahwa perdamaian bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang menyentuh relasi kemanusiaan,” ujarnya.

Kakiay mengangkat kisah rekonsiliasi antara Negeri Nolloth dan Itawaka di Maluku sebagai model konkret. Dalam kasus tersebut, ketika orang dewasa mengalami jalan buntu dalam menyelesaikan konflik, justru anak-anak menjadi pemicu terbukanya ruang dialog dan pemulihan hubungan sosial.

Menurutnya, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa anak bukan sekadar pihak yang terdampak konflik, tetapi juga aktor sosial yang mampu menghadirkan harapan baru bagi perdamaian.

Dr. Kakiay juga menegaskan bahwa perdamaian tidak berhenti pada kesepakatan semata. Lebih dari itu, damai harus terus dirawat melalui praktik sosial, diritualkan dalam kehidupan bersama, serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

Konsep ini disebutnya sebagai rekonsiliasi antargenerasi, yakni upaya menjaga keberlanjutan damai dengan melibatkan anak-anak secara aktif dalam proses sosial dan budaya masyarakat.

Dalam penutup orasinya, Kakiay mengajak seluruh elemen masyarakat—mulai dari akademisi, pendidik, hingga pemimpin komunitas—untuk meninjau ulang cara pandang terhadap anak.

“Anak bukan hanya generasi yang dibentuk, tetapi juga generasi yang mampu membentuk dunia menjadi lebih damai,” katanya.

Orasi ilmiah ini sekaligus menegaskan pentingnya pendekatan berbasis budaya lokal dan partisipasi lintas generasi dalam membangun perdamaian yang berkelanjutan di tengah masyarakat.

Penulis : Thobias Rahalus